Video
Jajak Pendapat

Penyakit MERS telah masuk di Indonesia melalui jamaah haji maupun umroh, darimana MERS-CoV ditularkan?...

Unta
Kucing
Kelelawar
Monyet
Belum diketahui

Artikel Kesehatan

VAKSINASI BCG PADA ERA PENGEMBANGAN PROGRAM IMUNISASI di JAWA TIMUR

Koentjahja

Eddy Pranowo Soedibyo MPH

 

PENDAHULUAN

          Program imunisasi adalah salah satu program kesehatan yang mempunyai peranan cukup besar dalam rangka menurunkan angka kematian bayi dan balita. Vaksinasi BCG adalah salah satu unsur program imunisasi, yang  dalam Pelita IV ini merupakan salah satu program prioritas dari Departemen Kesehatan.

 

          Pengembangan Program Imunisasi (PPI) di Indonesia dan di Jatim khususnya yang telah dimulai dengan suatu uji coba tahun 1976/77, saat ini telah mencakup seluruh wilayahnya. Akan tetapi hasil yang diperoleh yaitu jumlah sasaran imunisasi yang telah didapat ternyata masih jauh dari sasaran. Dari beberapa penelitian diambil kesimpulan bahwa penyebab kegagalan cakupan imunisasi ini terletak pada masalah kurangnya informasi.

          Atas dasar hal tersebut dicobalah menyusun makalah ini, dengan harapan dapat digunakan bagi siapa saja yang berminat dan pada gilirannya diharapkan pula agar informasi ini dapat diterus- kan kemasyarakat.

 

SEJARAH, EPIDEMIOLOGI DAN PROGRAM PEMBERANTASAN PENYAKIT TUBERKULOSA DIINDONESIA.

          Penyakit tuberkulosis adalah penyakit yang sudah tua sekali umurnya, meskipun demikian sampai abad ke 16 penyakit ini masih dianggap penyakit keturunan. Pada tahun 1882, seabad yang lalu Robert Koch membenarkan teori sebelumnya bahwa penyakit tuberkulosis adalah penyakit yang menular dan disebabkan oleh kuman Mikobakterium Tuberkulosa. Setelah berabad abad menjadi penyebab kematian yang menonjol, barulah sesudah perang dunia ke II selesai ditemukan penangkal yang berarti dari penyakit ini yaitu Streptomisin dan pencegahan terhadap penyakit ini yakni vaksin BCG pada tahun 1921 oleh Calmette dan Guerin. Selanjutnya kini telah dipergunakan obat obat kemoterapi yang sangat efektif seperti Isoniazid, Rifampicin, Ethambutol dan Pirazinamide yang dapat menyembuhkan secara total penyakit Tuberkulosis, tetapi masalah masalah sosial, ekonomi, dan politik menyebabkan tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dinegara berkembang khususnya di Indonesia.  

          Program vaksinasi BCG di Indonesia mulai dirintis sejak 1952 dan dimulai dengan lebih terarah sejak Pelita I, sesuai dengan keputusan Workshop TB/BCG Departemen Kesehatan di Ciloto 1969. Selanjutnya sejak 1972 pelaksanaannya digabungkan dengan vaksinasi cacar yang telah dilaksanakan lebih dahulu. Karena hasilnya baik maka pelaksanaannyapun diperluas bertahap keseluruh Indonesia. Selanjutnya pada tahun 1976 dimulai pula pemberian vaksinasi DPT dan TT pada beberapa kecamatan yang kemudian disebut sebagai: Kecamatan PPI (Pengembangan Program Imunisasi). Pada awal Pelita III yi. pada tahun 1979, PPI dicanangkan sebagai program nasional. Bulan Oktober 1979 seluruh dunia dinyatakan bebas cacar dan sejak Agustus 1980 seluruh kegiatan vaksinasi cacar di Indonesia dihentikan, selanjutnya tahun 1980 itu pula vaksinasi polio mulai dimasukkan program imunisasi. Vaksinasi campak mulai diuji coba di Indonesia sejak 1981. Tahun 1982 vaksinasi DT mulai diberikan pada SD kelas I, dan 1983 seluruh daerah PPI memberikan vaksinasi  DT disekolah. Selanjutnya 1984 pemberian TT diperluas pada murid SD kelas VI dan ibu pasangan usia subur.

          Di Indonesia maupun dinegara berkembang lainnya, banyak sekali dijumpai anak anak yang sakit bahkan sampai meninggal akibat penyakit tuberkulosis, yang sebetulnya dapat dicegah dengan vaksinasi BCG. Dikatakan dari sejumlah 300.000 penderita Tuberkulosis paru di Indonesia (>15 tahun) pertahun hanya dapat ditemukan < 10td_persen dari penderita yang ada sedang yang berobat dan sembuh hanyalah berkisar 50-60td_persen. Walaupun data yang akurat tentang penyakit tuberkulosa belum tersedia, karena masih lemahnya sarana maupun kemampuan diagnostik terutama dipelosok pelosok ditambah sistem pencatatan pelaporan yang belum memadai, dapatlah diperkirakan besarnya jumlah penderita Tuberculosis yang dapat dicegah dengan vaksinasi BCG. Dari hasil sigi prevalensi yang diadakan di Yogyakarta dan Malang sekitar tahun 1961 - 1965 dengan bantuan WHO dan Unicef, gambaran data data epidemiologi saat itu adalah sebagai berikut :

  1. Prevalensi BTA positip adalah 0,6 td_persen (dengan biakan).
  2. Prevalensi kelainan paru 3,6 td_persen (dengan sinar tembus).
  3. Resiko untuk mendapatkan infeksi pertahun 3 td_persen.
  4. Breakdown rate sebesar 5 td_persen.
  5. Insidens penderita menular 0.1-0.15 td_persen.
  6. Angka kematian di Jakarta 36.8/100.000 penduduk (1967).

Tanpa vaksinasi BCG dan pencarian serta pengobatan penderita, diperkirakan terdapat sekitar 225.000 penderita tuberkulosa paru pertahunnya di Indonesia, dan banyak diantaranya akan meninggal. Penyakit tuberkulosa paru di Indonesia telah dinyatakan sebagai salah satu masalah kesehatan utama.

          Program pemberantasan penyakit tuberkulosa di Indonesia sesuai dengan keputusan Workshop TB/BCG Depkes di Ciloto, 1969 terdiri dari :

  1. Vaksinasi BCG.
  2. Penemuan kasus secara aktip dan pasip.
  3. Pengobatan dan pengobatan ulang terhadap kasus.
  4. Penyuluhan kesehatan.
  5. Evaluasi daripada program.

Dari sini dapat diambil dilihat bahwa selain pengobatan yang adekwat diperlukan pula intensifikasi dari pada pelaksanaan vaksinasi BCG. Beberapa penelitian yang senada mengatakan daya perlindungan vaksin BCG adalah selama 7 - 12 th 

 

VAKSINASI BCG PADA PENGEMBANGAN PROGRAM IMUNISASI
di JATIM

 

TUJUAN DAN SASARAN

          Vaksinasi BCG pada era PPI secara bertahap bertujuan mencakup bayi berusia 3-14 bulan dari seluruh penduduk Indonesia untuk mendapatkan vaksinasi BCG, dengan harapan menurunkan angka kesakitan dan kematian dari penyakit tuberkulosis.

          Sasaran adalah bayi berusia 3-14 bulan untuk mendapatkan vaksinasi BCG 1 kali. Target untuk Jawa Timur adalah 2,5td_persen dari jumlah penduduk pertahun.

STRATEGI DAN METODOLOGI         

          Karena program ini merupakan program jangka panjang yang berkelanjutan, maka pelaksanaannya perlu diintegrasikan kepada Puskesmas. Mengingat keadaan Puskesmas dewasa ini belum seluruhnya siap untuk melaksanakan PPI, maka secara bertahap dipilih Puskesmas yang sudah memenuhi persyaratan sebagai berikut 

  • Tersedianya perlengkapan dan tenaga yang diperlukan untuk imunisasi.
  • Mempunyai jangkauan pelayanan yang baik.
  • Partisipasi masyarakat sudah baik.

Ada 2 komponen metodologi yang digunakan dalam pelaksanaan program yaitu :

  • Komponen statis : memberikan vaksinasi pada bayi yang datang ke Puskesmas. Biasanya dikerjakan oleh bidan atau perawat. 
  • Komponen dinamis : vaksinasi diberikan secara mendekati sasaran didesapada pos pos vaksinasi/yandu dalam satu siklus tertentu. Biasanya dikerjakan oleh juru imunisasi.

Kedua komponen tersebut saling bekerja sama, saling melengkapi, dibawah koordinasi pimpinan Puskesmas. Didaerah dimana Puskesmas sudah bisa melayani sebagian besar masyarakatnya, maka komponen statis yang lebih penting. Sedang sebaliknya komponen dinamis yang harus bekerja berat.

Pada komponen statis, bidan/perawat menunggu sasaran imunisasi datang ke Puskesmas. Diharapkan semua sasaran imunisasi yang datang ke Puskesmas akan mendapatkan pelayanan imunisasi. Vaksin BCG yang tak habis dipakai dalam sehari harus dibuang.

Pada komponen dinamis, juru imunisasi atau dapat pula perawat/bidan melaksanakan vaksinasi dengan cara mendekati sasaran dilapangan pada pos vaksinasi dalam satu siklus tertentu. Umumnya siklus yang dipakai adalah 3 bulan. Seorang juru imunisasi dibebani 30.000 penduduk, bilamana lebih perawat/bidan lah yang diminta untuk mengisi dan menjadikan wilayahnya menjadi desa binaan imunisasi yang biasanya dipilih yang dekat dengan Puskesmas.

SARANA  

          Vaksin yang dipergunakan dalam Program Imunisasi di Indonesia adalah vaksin produksi dalam negeri dari P.N. Bio Farma Bandung, dengan maksud :

  • menjamin kelangsungan persediaan vaksin.
  • menjamin ketepatan waktu penyediaan.
  • pengiriman dan syarat syarat administrasi lebih mudah dan cepat bila dibandingkan vaksin luar negeri.
  • penghematan devisa negara.

Vaksin berupa bubuk kering dalam ampul berwarna coklat dengan saline 4 ml sebagai pelarut. Tiap ampul dapat dipakai untuk 36 bayi, dengan dosis 0,05 ml. Pemakaian melalui intrakutan dilengan kanan tanpa pretest dengan tuberkulin. Cara penyimpanan vaksin dengan meletakkan dalam lemari es yang telah diatur temperaturnya dengan suhu 4-8oC. Tidak boleh diletakkan dalam freezernya. Bahan pelarut saline boleh disimpan diluar lemari es asal ditempat sejuk, selanjutnya sebelum dipakai dimasukkan kedalam es agar menjadi dingin. Vaksin yang telah dilarutkan tak boleh dipakai setelah 3 jam, sedangkan yang telah dimasukkan semprit tak boleh dipakai setelah 15 menit. Tanggal daluwarsa yaitu 1 tahun setelah pembuatannya yang tercantum pada label.

Kontra indikasi pemakaian adalah untuk bayi yang sedang sakit akut dengan demam dan penyakit kulit menahun pada tempat suntikan, pengobatan imunosupresive dan kortikosteroid. Setelah vaksinasi yang biasanya tidak menimbulkan demam, 1-3 minggu kemudian akan timbul benjolan kecil kemerahan ditempat suntikan yang memecah dan sembuh sendiri dengan menimbulkan jaringan parut (scar). Komplikasi yang mungkin terjadi adalah abses pada tempat suntikan yang disebabkan karena suntikan terlalu dalam (subkutan), kadang dapat timbul limfadenitis supurativa yang disebabkan karena dosis yang berlebihan atau terlalu dalam. Komplikasi dapat sembuh sendiri dalam 2-4 bulan, kadang kadang diperlukan aspirasi nanah bilamana mengancam pecah. Insisi, ekstirpasi, pecah spontan sebaiknya dihindari.

          Untuk menjaga stabilitas potensi vaksin mulai dari pabrik pembuatannya sampai pada sasaran imunisasi dipakailah sistem cold chain (rantai dingin) yaitu usaha agar vaksin selalu berada pada suhu yang ditetapkan. Untuk keperluan tersebut telah diusahakan sarana cold chain, yaitu peralatan penyimpanan vaksin dan peralatan pembawa vaksin berupa kamar dingin, lemari es, freezer, cold box, vaccine carrier, thermos, thermometer maupun penyediaan generator cadangan. Bila suhu vaksin selalu dipertahankan pada suhu tsb.(4-8oC.), baik waktu penyimpanan maupun selama dalam pengiriman maka potensi vaksin akan tetap baik sebelum masa daluwarsanya.

          Peralatan imunisasi untuk komponen lapangan disediakan kit imunisasi lengkap yaitu disertai tas imunisasi dan sterilisator, sedangkan untuk komponen statis disediakan kit imunisasi tidak lengkap. Pengadaan peralatan imunisasi sebagian mendapat bantuan UNICEF, sebagian lagi dibeli dengan APBN bagian proyek imunisasi. Karena kenyataan yang ada persediaan sangat terbatas maka diusahakan pula melalui APBD tingkat I dan II.

          Alat transport, untuk tingkat propinsi disediakan kendaraan roda 4, tingkat kabupaten/kotamadya kendaraan roda 2, sedangkan tingkat kecamatan/puskesmas sampai saat ini baru dapat disediakan sepeda. Usulan penggantian secara bertahap ke sepeda motor bagi juru imunisasi masih dalam penjajagan, dan telah diuji coba dibeberapa puskesmas di Indonesia. 

          Tenaga pelaksana, pada dasarnya menggunakan tenaga kesehatan yang telah tersedia. Dengan adanya PPI maka beban juru imunisasi  akan meningkat, padahal jumlah juru imunisasi amat terbatas dan sulit untuk mendapatkan penambahan maupun penggantian baru. Masalah yang lain adalah tingkat pendidikan juru imunisasi pada umumnya kurang memadai dibandingkan dengan makin kompleksnya program, karenanya kebijaksanaan untuk itu diserahkan pada kepala puskesmas. Jenis tenaga yang dapat dipergunakan adalah juru imunisasi, bidan atau perawat, tenaga UKS, petugas khusus merawat lemari es, dan petugas pencatatan pe- laporan. Di Dati II tenaga pelaksana adalah Kepala subseksi Imunisasi dengan seorang wakilnya serta seorang petugas khusus yang menangani pemeliharaan lemari es dan pengelolaan vaksin. Peningkatan ketrampilan setiap petugas dilakukan secara bertahap dan terus menerus, yaitu melalui bimbingan langsung atau mengikuti penataran penataran.

          Pembiayaan pengembangan program imunisasi dibebankan pada anggaran Pembangunan dari Departemen Kesehatan cq.Ditjen P2M PLP. Selain itu ditunjang APBD tingkat I & II. UNICEF, WHO dan USAID membantu perlengkapan dan keahlian.

PELAKSANAAN VAKSINASI DILAPANGAN

          Persiapan kegiatan vaksinasi meliputi 3 hal yaitu :

  • Persiapan masyarakat

Rencana kerja satu siklus yang sudah dibuat setelah dikoordinasikan dengan kecamatan diteruskan keseluruh desa/kelurahan dengan diberi penjelasan tentang siapa yang menjadi sasaran, kapan, dan tempat vaksinasi. Seminggu sebelum pelaksanaan sambil mencek jumlah sasaran, lebih baik diingatkan kembali jadwal yang ditentukan dan membicarakannya bila ada kesulitan. Pimpinan puskesmas atau petugas lain memberikan penyuluhan tentang imunisasi melalui rapat rapat yang ada didesa, pertemuan ibu PKK dll. Kesemuanya diharapkan dapat meneruskan informasi dan penjelasan tentang pelaksanaan tersebut kepada masyarakat.

Pada hari pelayanan diharap masyarakat sudah siap dan dengan bantuan pamong, ibu PKK atau kader desa yl sasaran diatur agar pelaksanaan dapat tertip.

  • Persiapan petugas

Sebelum berangkat diperiksa kembali apakah alat vaksinasi cukup, semua vaksin termasuk pelarut sudah terbawa cukup sesuai dengan target hari itu. Demikian pula kartu vaksinasi/ KMS dalam jumlah cukup dan buku pencatatan yang sesuai dengan tujuan hari itu sudah dibawa.

  • Persiapan tempat kegiatan vaksinasi

Memilih tempat yang tepat untuk pelaksanaan vaksinasi, sebaiknya dalam gedung di Puskesmas/posyandu dan diusahakan agar tempatnya cukup luas, teduh, ada bangku tempat ibu menunggu dan ada meja bagi pelaksanaan vaksinasi.

Mengatur tempat pelaksanaan vaksinasi agar tidak membingungkan ibu ibu yang datang. Bantuan pamong/kader untuk mengadakan pencatatan amat dihargai. Mungkin cukup disediakan 2 meja yaitu satu untuk seleksi sasaran dan satunya untuk pelaksanaan vaksinasi. 

          Setiap kali kita selesai mengadakan vaksinasi, maka pada akhir hari pelaksanaan, segala peralatan vaksinasi harus segera dibersihkan sampai benar benar bersih. Pada hari pelaksanaan berikutnya, sebaiknya sterilisasi dilakukan ditempat pelaksanaan 1 jam sebelum melakukan vaksinasi. Oleh karena itu petugas vaksinasi harus sudah hadir dipos vaksinasi 1 jam sebelum waktu yang ditetapkan dalam undangan untuk masyarakat. Membersihkan, sterilisasi alat alat sesuai dengan petunjuk yang telah ditentukan untuk masing masing jenis vaksinasi, khusus untuk BCG perlu disterilkan semprit 5 cc atau 10 cc 2 buah untuk pencampur, semprit Omega 1 cc 2 buah dan jarum BCG (No 26 G) 3-5 buah. Pada pemberian vaksinasi BCG, satu semprit dengan satu jarum dapat dipergunakan untuk menyuntik beberapa kali, asal sterilisasi dilaksanakan dengan baik. Sterilisasi jarum dilakukan dengan cara memanasinya diatas nyala api kira2 2 detik setiap selesai menyuntik, tegakkan semprit dan keluarkan vaksin sebanyak 0,02 ml dengan posisi jarum tetap diatas. Walaupun jarum BCG dapat dipakai berkali kali, bilamana jarum sudah tumpul sebaiknya dibuang.

          Penyuluhan kesehatan, khususnya tentang imunisasi sangat penting diberikan pada ibu ibu yang membawa bayinya untuk vaksinasi BCG khususnya. Penyuluhan kesehatan ini harus selalu diberikan sebelum pelaksanaan pemberian vaksinasi, hingga mereka mengetahui kegunaan vaksinasi, jenis penyakit yang bisa dicegah, siapa sasaran imunisasi, reaksi akibat imunisasi dan kapan mereka harus kembali untuk vaksinasi berikutnya.

          Selanjutnya letakkan semua perlengkapan vaksinasi secara rapi dimeja yang disediakan khusus untuk itu; kartu vaksinasi, buku pencatatan hasil vaksinasi; perlengkapan vaksinasi yang telah steril, dll.

Untuk vaksinasi BCG pastikan dulu bahwa vaksin yang akan digunakan sudah sesuai dengan pelarutnya dan cek tanggal daluwarsanya. Kemudian masukkan pelarutnya sejumlah 4 ml larutan saline dalam keadaan dingin sesuai dengan suhu vaksinnya. Goyangkan ampul vaksin perlahan lahan, jangan dikocok.

Hisap larutan vaksin BCG sedikit, hindari tercampur udara dan setelah semprit dibilas baru larutan vaksin dihisap secukupnya. Perlu diingat bahwa vaksin yang sudah berada dalam semprit selama 15 menit tak boleh dipakai lagi. Sebelum siap memberikan vaksinasi letakkan vaksin BCG dalam thermos es untuk menjaga agar vaksin tetap dingin selama kegiatan berlangsung agar potensinya tidak cepat berkurang, karena vaksin BCG yang telah dilarutkan sukar dimasukkan kembali kedalam thermos.      

          Meneliti (mengadakan seleksi) dan mencatat sasaran vaksinasi penting untuk melihat apakah umur sasaran sesuai dengan ketentuan, apakah sasaran dalam keadaan sehat dan menentukan jenis vaksin yang harus diberikan. Selanjutnya pelaksanaan vaksinasi juga diikuti dengan pencatatan pada buku yang telah disediakan.

TEHNIK VAKSINASI BCG (SUNTIKAN INTRAKUTAN / INTRADERMAL)

          Bebaskan lengan kanan bayi dari pakaian yang dikenakannya. Lokasi ini (insertio m. deltoideus) sudah merupakan konsensus untuk memudahkan pemeriksaan scar BCG. Mintalah agar ibu sibayi atau orang lain untuk memegang bayi dengan kuat. Bila kulit lengan sudah bersih tak perlu dilakukan desinfeksi, sedang bila kotor dapat dibersihkan dengan kapas dan air bersih. Jangan memakai spiritus/alkohol karena akan membinasakan vaksin BCG.

Pertengahan lengan bayi dipegang dengan kuat memakai tangan kiri dan dengan semprit ditangan kanan letakkan ujung jarum yang runcing ditempat yang akan disuntik sedemikian hingga jarum membentuk sudut kira kira 30-60 derajat dengan poros lengan atas anak. Pastikan lubang jarum menengadah pada saat ditusukkan kedalam kulit. Dorong jarum kedalam kutis hingga hanya separuh lubang jarum tinggal kelihatan diluar permukaan kulit, selanjutnya sudut suntikan diperkecil dan dorongan diteruskan sampai lubang seluruhnya berada dalam kulit. Tekan piston pelan pelan untuk memasukkan vaksin sejumlah 0,05 ml bilamana penyuntikan benar akan terlihat benjolan putih kecil dan tampak pori pori yang membesar pada kulit diatasnya. Kemudian jarum ditarik keluar, bekas suntikan jangan diusap.

 

PERAN SERTA MASYARAKAT

          Setiap program dengan sasaran pokok masyarakat tidak akan berhasil bila tidak dimengerti oleh masyarakat yang akan menerimanya. Oleh karena itu pengertian tentang imunisasi perlu disebar luaskan. Penyuluhan tentang imunisasi harus secara terus menerus dilaksanakan melalui pelbagai jalur komunikasi yang ada.

          Secara lintas program dapat diikut sertakan semua petugas kesehatan dalam hal penyuluhan imunisasi. Secara lintas sektoral dapat dimanfaatkan forum lintas sektoral yang telah ada, misalnya dari program gizi BPGD (Badan Perbaikan Gizi Daerah), BP2GD (Badan Pelaksana Perbaikan Gizi Daerah), KP2GD (Kelompok Pelaksana Perbaikan Gizi Daerah) dimana didalamnya telah tercakup emua sektor yang ada bahkan termasuk para ulama dan tokoh masyarakat.

          Organisasi masyarakat yang ada seperti PKK, P2WKSS, GMS dan lainnya dapat pula diajak untuk mengadakan motivasi, mencatat sasaran imunisasi serta merujuk sasaran tersebut ketempat pelayanan imunisasi. Tenaga PLKB ataupun para dukun yang banyak berhubungan dengan ibu, dapat berfungsi sebagai motivator yang sangat potensial.

          Tanpa adanya peran serta masyarakat, maka program imunisasi sebagai  program jangka panjang mustahil akan berhasil. Masyarakat harus mengerti akan pentingnya imunisasi hingga mereka merasa membutuhkan program ini dan karenanya akan dapat berperan serta secara aktif. Masyarakat jangan dianggap sebagai obyek, mereka harus merasa sendiri sebagai subyek.

          Guna pemantapan usaha penyuluhan dibidang imunisasi, ditingkat pusat telah dikeluarkan suatu kesepakatan Lintas Sektoral dan diharapkan kesepakatan ini berlanjut sampai tingkat paling bawah.

EVALUASI PROGRAM

          Couverage Survey (Sigi Cakupan Imunisasi) merupakan evaluasi program dari segi operasionilnya, yaitu untuk mengetahui sampai berapa jauh cakupan telah dicapai dalam pelaksanaan pemberian imunisasi. Juga digunakan 'sigi scar' untuk mengevaluasi hasil dan cara kerja  petugas lapangan yang melak- sanakan. Sigi cakupan dapat dilaksanakan secara nasional maupun menurut daerah masing masing sesuai kebutuhan.

          Pemeriksaan potensi vaksin merupakan cara untuk evaluasi terhadap vaksin yang dipergunakan dalam program imunisasi, terutama sehubungan dengan cold chain kita yang belum sempurna. Vaksin yang diperiksa dapat diambil dari vaksin yang dikirim oleh Bio Farma, stok pusat, propinsi, kabupaten/ kotamadya, kecamatan maupun vaksin yang dibawa ke lapangan.

          Penurunan angka penyakit penyakit yang dapat diberantas dengan imunisasi (penyakit PPI), merupakan dampak epidemiologis yang kita harapkan. Untuk itu perlu diketahui keadaan penyakit sebelum adanya program imunisasi dan beberapa tahun sesudahnya. Guna keperluan tersebut, maka setiap ditemukannya kasus penyakit PPI harus dilaporkan oleh Puskesmas, Rumah Sakit dan sebaiknya juga oleh dokter yang berpraktek swasta. Begitu pula dengan laporan kematian dari penyakit penyakit PPI.

RINGKASAN

          Telah dibahas mengenai vaksinasi BCG pada era Pengembangan Program Imunisasi dengan kesulitan kesulitan yang ada yang terutama disebabkan karena faktor ketenagaan, mutu ketenagaan yang belum memadai, penatalaksanaan pelaksanaan vaksinasi yang perlu dirapikan, peran serta masyarakat yang masih perlu ditingkatkan dan akhirnya penyampaian informasi yang perlu digalakkan.

          Disinggung pula mengenai Sejarah, Epidemiologi dan Program Pemberantasan Penyakit Tb di Indonesia; selanjutnya mengenai tujuan dan sasaran, strategi dan metodologi, sarana, dan pelaksanaan  vaksinasi BCG dilapangan, tehnik vaksinasi BCG, peran serta masyarakat dan evaluasi pelaksanaan vaksinasi BCG secara singkat.

 

TINJAUAN PUSTAKA

  1. Adhyatma M. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Cetakan ke II. Jakarta: Dep.Kes.RI.,1980.
  2. Anonim. Bagaimana Merawat Peralatan Cold Chain. In: Pengembangan Program Imunisasi. Seksi Imunisasi Sub Dinas Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Propinsi Jatim, 1984.
  3. Anonim. Pelaksanaan Kegiatan Vaksinasi di Lapangan. In: Pengembangan Program Imunisasi. Seksi Imunisasi Sub Dinas Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Propinsi Jatim, 1984.
  4. Anonim. Penjelasan Umum tentang Pengembangan Program Imunisasi. In: Pengembangan Program Imunisasi. Seksi Imunisasi Sub Dinas Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan  Propinsi Jatim., 1984.
  5. Behrman RE, Vaughan VC, Tuberculosis. In: Nelson Textbook of    Pediatrics. Tokyo: Igaku Shoin/Saunders International Edition, 1983: 708-12.
  6. Kasik JE, Tuberkulosis dan Penyakit Mikobakteria Lain. In: Terapi Mutakhir (Conn's Current Therapy). EGC Penerbit Buku Kedokteran, l984-5:148-57.
  7. Prihatini SB. Evaluasi Program Penanggulangan Tuberkulosa Paru dengan Test Tuberkulin. Surabaya: Seksi Paru FK Unair, 1986. 52 pp. Karya Akhir.
  8. Prihatini SB, Soedarmadi R, Brata Ranuh IGM MPH. Laporan Pelaksanaan Program Pemberantasan Penyakit TB Paru di Jatim. Simposium Tuberkulosa Masa Kini. Surabaya. 1978: 1-10.
  9. Rohde JE. Tuberculosis. In: Prioritas Pediatri di Negara Sedang Berkembang. Yogyakarta: Yayasan Essentia Medica, 1979: 303-28.
  10. Soedibyo EP MPH, Sejarah dan Epidemiologi Penyakit Tuberkulosa Simposium Tuberkulosa. Surabaya, 1982:11-27.
  11. Suraatmadja S. Perkembangan mutakhir dari Imunisasi. Medika 1987;
    4: 389-98.
  12. Surjaningrat S, Sistem Kesehatan Nasional.Jakarta Depkes.RI. 1982:32
  13. Sutejo. Pediatri Pencegahan. In: Kumpulan Kuliah Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Jakarta: FKUI, 1977:3-23.
  14. Winardi B. Suatu Pendekatan Sistem Dalam Pelaksanaan Pemberantasan Penyakit Tb Paru. Simposium Tuberkulosa Masa Kini. Surabaya. 1978: 13.

 

---------oooOOOooo--------

 

Surabaya 17 Pebruari 1988.

 

Kata kunci : spesialis paru malang, dokter spesialis paru malang, dokter paru malang, sp paru malang, ahli paru malang, spesialis paru di malang, dokter spesialis paru di malang, dokter paru di malang, sp paru di malang, ahli paru di malang, spp malang, spp di malang, dokter paru terbaik malang, dokter paru terbaik di malang, dokter paru senior malang, dokter paru senior di malang, dokter paru bagus malang, dokter paru bagus di malang, dokter paru terbagus malang, dokter paru terbagus di malang, dokter paru terbaik malang, dokter paru terbaik di malang, dokter ahli paru di malang, pulmonologi malang, dokter paru, spesialis paru, ahli paru, dokter spesialis paru, respirologi malang, respirology malang, pulmonology malang

Tulis komentar

 
 

PRAKTEK Alamat lama:
Apotik Kimia Farma 53
Kawi 22A, Malang
Alamat baru: (TMT 1/1-13)
RS Panti Waluya /RKZ Sawahan,
Lantai II-N
Nusakambangan 56, Malang 65117
08113777488 / 362017 ext. 88.23
Pukul 18.00 - selesai, kec. Sabtu / Libur
RUMAHWilis Indah A-6, Malang 65115
0341-568711

Peta Lokasi