Video
Jajak Pendapat

Penyakit MERS telah masuk di Indonesia melalui jamaah haji maupun umroh, darimana MERS-CoV ditularkan?...

Unta
Kucing
Kelelawar
Monyet
Belum diketahui

Artikel Kesehatan

SEORANG PENDERITA DENGAN MASS SOLITER DI RONGGA DADA KANAN

* Koentjahja., Soetjipto D.

                  ** Soemarno.

                *** Chunadi E., Triono KSP.

              **** Setiono Basuki., Prayogo.

***** Soebagjo R., Sri P., Soegeng S.

 

        * Seksi/UPF Pulmonologi FK Unair/RSUD Dr.Soetomo

                  ** Departemen Pulmonologi Rumkital Dr.Ramelan

    *** Lab./UPF Radiologi FK Unair/RSUD Dr.Soetomo

              **** Lab./UPF Chirurgi FK Unair/RSUD Dr.Soetomo

***** Lab./Inst.P.A. FK Unair/RSUD Dr.Soetomo

 

 

KASUS

     Seorang penderita pria, Tn.M.S., usia 42 tahun, suku Jawa, agama Islam, pekerjaan provoost Polda Jatim. Masuk Rumah Sakit Angkatan Laut dr Ramelan melalui poliklinik paru tanggal 28 Desember l987 ketika penderita memeriksakan pundak kanannya yang sakit kemeng. Penderita merasa sakit kemeng pundak kanannya yang tak dipengaruhi aktifitas/nafas & mulai terasa beberapa hari sebelum MRS yaitu sesudah penderita jatuh dari berkendaraan sepeda motor. Penderita mengalami luka lecet ringan dipundak kanan bagian belakang dan lutut kanannya. Sakit kemeng tidak dapat dilokalisir dengan betul oleh penderita, dirasakan terus menerus, tidak terlalu berat dan tidak bertambah berat. Penderita juga menderita batuk batuk lama sekitar 1½-2 tahun, terus menerus, tidak begitu berat dan hanya mengeluarkan dahak sedikit warna putih setiap harinya. Dikatakan batuknya batuk'biasa'.Tidak pernah batuk darah. Penderita tidak merasa sesak dan tidak demam. Penderita tidak mengalami perubahan suara menjadi serak, tidak ada kesulitan menelan, tidak merasa sakit pada lengannya, tidak ada penurunan nafsu makan dan tidak mengalami pengurusan akhir akhir ini bahkan berat badan selama opname 2 minggu naik sebanyak 1 kg. Penderita adalah perokok berat sejak puluhan tahun yl. sehari menghabiskan rata rata >20 batang rokok kretek.

Buang air kecil tidak pernah keluar darah maupun keluhan lain, demikian juga buang air besar tidak ada keluhan. Leher/kelenjar gondok tidak membesar dan tidak sakit. Penderita juga tidak mempunyai keluhan lain maupun sakit yang memerlukan perawatan sebelumnya. Penderita tidak pernah bekerja/berdomisili ditempat yang berhubungan dengan asbestos.

     Pada pemeriksaan fisik didapatkan penderita dengan kesadaran baik, gizi cukup, tidak ikterus, tidak sianotis dan tidak anemis, tekanan darah 130/70, nadi 88/menit,suhu ketiak 36oC. BB 44 kg, TB 160 cm.

Pada pemeriksaan kepala dan leher; mata tak didapatkan kelainan, tidak didapatkan pembesaran kelenjar gondok maupun getah bening, desakan vena sentral normal, tak dijumpai deviasi trakhea.

Pada pemeriksaan dada didapati nyeri kemeng didaerah pundak kanan, tidak teraba benjolan, ada bekas luka bakar yang telah menyembuh tanpa pembentukan jaringan parut yang berlebihan dan terdapat kolateral pembuluh darah yang minimal didaerah pundak kanan, tapi tidak ada daerah yang nyeri tekan. Pemeriksaan kelenjar mamma tidak ada kelainan. Pada perabaan tidak dijumpai adanya kelainan pada pemeriksaan pertama tapi pada pemeriksaan yang lebih teliti didapatkan iga kedua kanan tak teraba, sebagai gantinya teraba jaringan kenyal-keras, tidak nyeri tekan, tidak teraba tumor. Selanjutnya toraks tampak simetris, sisi kanan sedikit agak tertinggal pada waktu bernapas, keredupan ditoraks sisi kanan atas, suara napas menurun tapi tidak didapatkan adanya ronki. Jantung dalam batas normal.                  

Pada pemeriksaan perut, dinding perut supel, hati tak teraba demikian pula limpa, tak nampak adanya kolateral, ascites -, Alat kelamin dan dubur tak ada kelainan. Rectal toucher juga tak dijumpai adanya kelainan.

Anggauta gerak tidak dijumpai adanya kelainan.

     Hasil pemeriksaan laboratorium adalah sbb : (29 Des.1987)

Darah tepi: Hb 14,5 grtd_persen, Eri 4,7 juta, Leuko 6.600, Trombo 120.000, LED
29-67,
Hitung jenis 1/-/4/58/34/3; Urine: alb-, red-uro-, bili-, sedimen: leuko 2-3, eri-, sil-, kristal-, epitel 1-2  Tinja tak dijumpai adanya kelainan. Sputum: BTA-, Gram staf dan strep +.sitologis 3x tidak ada sel ganas.Kimia darah: Bilirubin direk 0,20 mgrtd_persen, indirek 0,10 mgrtd_persen,TTT 1,8U, Gross 1,65 cc, SGOT 8,5 UI, SGPT 10,6 UI, Kolesterol 149 mgrtd_persen, Total Protein 6 gtd_persen, Albumin 3,1 gtd_persen, Globulin 2,9 gtd_persen, kreatinin 1,2 mgrtd_persen, BUN 18 mgrtd_persen, SDA 72 mgrtd_persen, 2 jam pp 92 mgrtd_persen Faal Hemostasis: Waktu perdarahan 1,3 menit, masa pembekuan 6 menit,PPT 12,6 detik(kontrol 12,5 detik),KPTT 35,4 detik(kontrol 35,1 detik). Kesan : normal. Mantoux test 25x22 mm. Faal Paru: FVC 2,63 l (72td_persen), FEV1 0,79l/dt (31td_persen); Kesan : Restriksi ringan,obstruksi berat (Penderita kurang kooperatif).

     Konsultasi Kardiologi (29/Des.87): tak ada kelainan dibidang kardiologi, setuju untuk dilakukan bronkoskopi serat optik.

     Hasil pemeriksaan BSO (30/Des.87): Tampak seluruh bronkus kanan dengan percabangannya normal, bronkus kiri dan percabangannya mukosa hiperemis dan banyak sekret. Kesan Bronkitis kronis.

     Pemeriksaan X foto toraks PA-Lat.(29/Des-88): Adanya mass dirongga dada kanan atas arah depan-belakang ukuran 4,5x5x10 cm.

Dilakukan artifisial pneumotoraks (5/Jan-88) dengan tuntunan fluoroskopi, selanjutnya dilakukan X foto toraks post artifisial pneumotoraks : Mass terletak bebas diluar paru. Sesudah X foto, udara langsung dikeluarkan hingga paru mengembang kembali.

     Pemeriksaan laboratorium tambahan : (8/Jan-88).

Evaluasi hapusan darah: Eri: normokrom, normositer. Leuko: kesan jumlah cukup, sel abnormal -. Thrombo: kesan jumlah cukup.

Urine : Bence Jones protein -. Kimia darah : Asam urat 3,7 mgrtd_persen (3,4-7), alk.fosfatase 57 u/l(20-95), asam fosfatase 3,9 u/l(0-11), kalsium 8 mgtd_persen (9-12), fosfor 2,82 mgtd_persen (2-5). Elektroforese protein: Albumin 45,9td_persen (43-66,3), Globulin: alfa 1  2,8td_persen(1,1-6,2), alfa 2 16,6td_persen (6,6-12,9), Beta 15,9td_persen(7,3-16,2), Gama 18,8td_persen(12,6-27,3). CEA 2,2 ng/ml (<5), AFP 0,7 ng/ml (<20).

     Hasil X foto toraks PA-lat (evaluasi 13/Jan-88): Mass hemitoraks kanan atas disertai destruksi iga 2 total dengan bentuk lobulated mulai dari depan sampai belakang. Paru kiri kanan bawah bersih. Jantung normal. Hasil pemeriksaan X foto toraks setelah diberikan pneumotoraks artifisial : Tumor terlepas dari paru, perlekatan -, tumor makin jelas berasal dari iga 2 lateral depan dengan sisa-sisa iga belakang. Tulang iga 1 dan 3 masih intakt. Skapula masih intakt, tidak ada tanda tanda infil- trasi oleh tumor. Kalsifikasi jar.lunak -. Hasil pemeriksaan tomografi: Tumor solid berasal dari iga 2, iga 1 dan 3 intakt, tak ada kelainan paru yang berarti didekat daerah tumor. Hasil foto evaluasi tulang: tulang tulang lengan atas/bawah, tungkai atas/ bawah dan panggul tak ada kelainan.

Kesimpulan: Tumor yang berasal dari tulang iga 2 kanan dengan                           destruksi iga 2, kesan ganas.    

     Konsultasi Bedah Thoraks (15/Jan-88): Tumor dinding toraks yang tampaknya berasal dari kosta 2 kanan (sarkoma?), direncanakan untuk reseksi iga 2-3 kanan dan ekstirpasi tumor pada tanggal 19/Jan-88.

     Konsultasi Anaesthesi (16/Jan-88): Setuju dilakukan operasi torakotomi.

     Penderita dipindahkan ke Bagian Bedah RSUD Dr Soetomo tang- gal 18/Jan-88 selanjutnya dioperasi tanggal 19/Jan-88.

     Perawatan selama di Rumkital Dr Ramelan meliputi pemberian antibiotika, mukoregulator dan analgetika.

 

PEMBAHASAN

     Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik didapatkan seorang penderita pria umur 42 tahun dengan keluhan utama rasa kemeng yang sulit dilokalisir dipundak kanan yang diderita selama seminggu bersamaan dengan sesudah kecelakaan lalulintas. Penderita seorang perokok lama dan tidak mengeluh akan adanya gejala lain kecuali batuk'biasa', tidak sesak, tidak demam, tidak berubah suaranya menjadi serak, tidak ada keluhan dari traktus GI, tak ada keluhan dari traktus UG, nafsu makan baik dan tidak mengurus akhir akhir ini. Penderita juga tidak pernah kontak dengan bahan asbestos.

Terdapat keredupan pada perkusi didada kanan atas disertai suara napas yang menurun. Selanjutnya tak dijumpai kelainan pada bagian tubuh yang lain, termasuk kel.tiroid dan RT-nya. Baru setelah evaluasi kemudian didapati kesulitan meraba iga 2 kanan, sebagai gantinya teraba jaringan kenyal keras, nyeri tekan -, tumor -.

     Pada pemeriksaan laboratorium tak dijumpai kelainan yang berarti kecuali terdapat peningkatan LED 29-67, sputum yang me- ngandung stafilokokus & streptokokus, fraksi alpha 2 globulin yang sedikit meningkat. Selanjutnya kadar gula darah, LFT, RFT, nilai elektroforese protein yang lain, serta pemeriksaan CEA dan AFP tidak menunjukkan kelainan.

     Adanya mass padat soliter dalam rongga dada sebelah kanan yang dijumpai pada waktu pemeriksaan X foto toraks untuk evaluasi gejala klinik penderita, sesuai dengan anatominya menunjukkan kemungkinan mass tersebut terletak didalam paru, dipleura, atau didinding dada.

     Pemeriksaan bronkoskopi serat optik yang dilakukan ternyata tidak menunjukkan kelainan yang berarti selain adanya tanda tanda proses bronkitis justru pada bagian paru yang berlawanan dengan sisi lesi. Ini menunjukkan bahwa saluran napas hingga keperca- bangan bronkus subsegmentalis bebas dari keterlibatan tumor tersebut maupun penekanan kelenjar getah bening sebagai akibat kemungkinan adanya metastase tumor kekelenjar getah bening regional. Hal ini masih belum bisa menyingkirkan kemungkinan bahwa tumor tersebut terletak dibagian perifer dari parenkim paru hingga tak terjangkau oleh lapangan penglihatan bronkoskopi. 

     Dicoba prosedure diagnostik artifisial pneumotoraks yaitu dengan memasukkan udara kedalam rongga pleura kanan untuk mengetahui apakah kelainan tersebut terletak dibagian perifer parenkim paru atau pada pleura parietalis/dinding dada. Udara tersebut berfungsi sebagai media kontras negatif.

Hasilnya dengan jelas dapat menunjukkan bahwa mass yang terlihat pada X foto toraks adalah bukan merupakan tumor paru tetapi merupakan tumor dari dinding dada atau pleura parietalis.

     Penilaian radiologis dikatakan mempunyai nilai diagnostik, walaupun untuk diagnose yang difinitif perlu adanya hubungan yang erat antara gambaran radiologis dan histologis dari tumor dinding dada. <9>

Dari hasil pemeriksaan X foto toraks PA-lat, post artifisial pneumotoraks dan tomografi menunjukkan bahwa tumor dinding dada tersebut diperkirakan berhubungan dan mengadakan destruksi yang luas dari tulang (hampir seluruh tulang iga 2 kanan), berbatas jelas, tanpa adanya tanda infiltrasi kesekitarnya yaitu keiga lain/tulang tulang sekitarnya / jaringan paru, juga tidak adanya kalsifikasi jaringan lunak sekitarnya, tak adanya pleural effusion, mengesankan bahwa tumor tersebut berasal dari tulang iga.

     Selanjutnya mengingat destruksi luas dari tulang iga ke 2 kanan, besar tumor yang mencapai ukuran  4,5x5x10 cm , adanya pe- rasaan nyeri yang sifatnya kemeng, usia penderita yang tergolong usia pertengahan, frekwensi tumor tulang ganas didinding dada, terdapat kecenderungan untuk mengatakan tumor tulang iga tersebut bersifat ganas.

     Peningkatan LED, peningkatan fraksi alpha 2 globulin darah, Mantoux test positip 25 x 22 cm, CEA 2,2 ng/ml; AFP 0,7 ng/ml, tidak adanya tanda tanda tumor primer ditempat yang lain seperti tiroid, paru, traktus GI, traktus UG, prostat, mammae, maupun tanda metastase diparu/hati/tulang lain menyebabkan dipikirkannya tumor ganas tulang iga tersebut bukanlah berasal dari metastase keganasan ditempat yang lain; selain itu kemungkinan keradangan terutama yang kronis/spesifik masih perlu dipertimbangkan.

     Masih perlu pula dipikirkan kemungkinan adanya suatu keganasan dari organ /jaringan yang terletak disamping atau sepanjang tulang iga yaitu tumor ganas dari syaraf-jaringan ikat yang mengadakan destruksi pada iga 2 kanan tersebut.

     Walaupun untuk penentuan diagnosa biasanya tergantung dari pemeriksaan patologi anatomi yang lengkap, tetapi dikatakan biopsi insisi maupun biopsi aspirasi tidak dapat menghasilkan jaringan yang representatif dan penyebaran sel sel tumor ganas pada jaringan lunak disekitarnya kadang kadang dapat terjadi. Untuk itu dianjurkan biopsi eksisi yang luas.

Disamping itu adanya keganasan kadang kadang sulit disimpulkan secara patologis, hingga sebaiknya tumor tulang iga diangkat secara operasi.

     Berdasarkan data data dan kenyataan diatas, maka sebagai langkah pertama dapatlah disimpulkan bahwa tumor tersebut berasal dari dinding dada yang diperkirakan :

  1. Tumor ganas tulang iga primer, meliputi:
  • Tumor berasal dari sel korteks tulang.
  • Tumor berasal dari sel medulla tulang.         
  1. Keradangan tulang kronis/spesifik.
  2. Tumor ganas syaraf-jaringan ikat.

 

Tumor ganas tulang iga primer

     Seperti tumor yang berasal dari tulang dibagian lain dari tubuh, tumor ganas tulang iga primer biasanya merupakan sarkoma.

     Tumor ganas tulang iga primer  dikatakan menempati 27 td_persen dari tumor tulang iga secara keseluruhan, dibanding dengan tumor ganas metastatik sebesar 37 td_persen. Dilain pihak dikatakan frekwensi tumor ganas tulang iga primer adalah lebih banyak dibanding tumor jinak primernya. Selanjutnya kalau tumor jinak sering dijumpai pada dewasa muda, maka tumor ganas tulang iga primer sering dijumpai pada usia pertengahan dan tumor ganas tulang iga metastatik pada usia lanjut.

Tumor ganas dari sel korteks tulang.

KONDROSARKOMA

     Jenis tumor ini adalah yang tersering dijumpai dari tumor ganas tulang iga primer. Frekwensi berkisar 33-50td_persen. Terbanyak dijumpai pada usia pertengahan. Lebih sering pada pria. Segmen anterior dari 5 tulang iga teratas paling sering terkena, walaupun dapat terjadi diseluruh segmen.

Gejala yang umum adalah perasaan nyeri dan adanya mass didinding toraks yang tumbuhnya lambat. Diameter berkisar 1,5 cm-20 cm bahkan dapat besar sekali merupakan masive kondrosarkoma dinding toraks. Hanya kadang kadang dijumpai keterlibatan kelenjar limfe regional.

Radiologis dijumpai kerusakan korteks tulang biasanya dikenal dengan 'diffuse mottled calcification', yaitu daerah radiolusen disertai titik titik kalsifikasi yang kabur.

Makroskopis biasanya berbentuk lobulated, keras dan tampak terdiri dari tulang rawan. Pada potongan daerah nekrosis, pecah-pecah, pembentukan kiste dan kalsifikasi sering didapati. Beberapa tumor lunak dan sifatnya myxoid dilain pihak dapat sangat keras. Mikroskopis  terdapat peningkatan ukuran nukleus, bentuk nucleus yang irreguler dan banyaknya sel yang mengandung lebih dari satu nukleus.

OSTEOSARKOMA

     Terdapat pada usia 13 - 53 tahun, kebanyakan 20 - 30 th., terutama pada pria. Frekwensi 10 td_persen dari tumor ganas tulang iga primer. Amat ganas dan menyebabkan metastase dini melalui darah, seringkali menyebabkan metastase keparu. Lebih ganas dari pada kondrosarkoma. X foto toraks menunjukkan osteolitik dan osteoblastik pada korteks tulang menunjukkan 'sunburst/fir tree appearance'.

Makroskopis kelainan berbentuk fusiform atau lobulated dan pada potongan bervariasi dari mass yang keras karena kalsifikasi hingga lunak. Daerah perdarahan, nekrosis, pulau pulau tulang rawan biasanya nampak. Mikroskopis tumor ini terdiri dari stroma sarkomatous yang terdiri dari sel anaplastik besar dan didalam- nya tumor osteoid dibentuk oleh komponen seluler dari stroma.

 

 

 

Tumor ganas dari sel medulla tulang

MIELOMA (PLASMASITOMA SOLITER)

     Merupakan tumor kedua terbanyak dari tumor ganas tulang iga primer, bahkan bila terditeksi semuanya mungkin merupakan tumor yang terbanyak. Frekwensi kira kira 15 td_persen. Dijumpai banyak pada usia pertengahan sampai lanjut, terutama pada pria. Adanya destruksi satu atau lebih tulang iga dengan jaringan mass yang menonjol kedalam rongga toraks dan mendesak jaringan paru dikatakan sangat mungkin suatu mieloma.

     Seringkali tumor dengan pertumbuhan yang lambat ini telah ada sekian lama sebelum timbulnya gejala klinik. Gejala yang ditampilkan adalah nyeri dan biasanya memberikan tanda tanda manifestasi sistemik. Efek patologis yang ditimbulkan bisa dibagi menjadi 2 macam:

  1. Pertumbuhan tumor dengan akibatnya.

Timbul osteolisis dengan resiko timbulnya fraktur. Selain itu juga timbul pemadatan sumsum tulang dengan akibat anemia, trombositopenia. Plasma sel leukemia timbul bilamana plasma sel memasuki darah. Adanya peningkatan asam urat akibat peningkatan pertukaran sel sel dan peningkatan kalsium akibat osteolisis akan meningkatkan resiko kegagalan ginjal.

  1. Pembentukan immunoglobulin dengan akibatnya.

Mieloma merupakan tumor monoklonal, yang menghasilkan immunoglobulin sejenis. Adanya Immunoglobulin ini dicerminkan dari gambaran elektroforese, yang menunjukkan adanya spike dari 'M'yeloma protein. Kadar 'M'protein yang tinggi menyebabkan naiknya LED, naiknya pembentukan rouleaux, dan meningkatkan viskositas darah.

     Pada kebanyakan kasus terbentuk molekul Imunoglobulin yang tidak sempurna, dan rantai yang tidak melekat sempurna dilepaskan dengan akibat menembus glomerulus. Selanjutnya akan tampak Bence Jones protein diurine jang lama kelamaan bisa menimbulkan myeloma kidney. Sebagian yang lain dilepaskan melalui kapiler darah membentuk amiloid yang merusak banyak organ organ termasuk ginjal. Penderita juga sering mengalami infeksi sekunder, pneumonia.

     Gambaran radiologis merupakan 'punched out defects/moth eaten' pada tulang ybs., tanpa adanya reaksi sklerotik atau reaksi periostal.

     Makroskopis seringkali tumbuh keluar dari tulang,membentuk jaringan berwarna coklat keabu-abuan, homogen, keras bergranuler. Terdapat daerah dengan perdarahan dan nekrosis. Mikroskopis tampak lapisan sel sel bulat sedikit lebih besar dari limfosit dengan sitoplasma eosinofilik dan nukleus eksentris berisi kelompok kromatin dipinggirnya. 

SARKOMA EWING

     Tumor ganas yang jarang, didapati biasanya pada umur muda, asal histogenesisnya tidak diketahui ada yang mengatakan dari endotelioma/hemangioendotelioma. Biasanya terdapat gejala umum berupa panas dan malaise dan kelainan lokalnya merupakan mass yang dirasakan nyeri, tapi kadang kadang tak menunjukkan gejala.

Radiologis terdapat tanda khas yi. kalsifikasi onion skin. Tumor ini sangat ganas. Biasanya disertai dengan kelainan ditulang lainnya.

Makroskopis tumor homogen dan lunak dan pada irisan tampak jaringan limfe dengan banyak daerah nekrosis dan perdarahan. Mikroskopis tumor ini ditandai dengan sel sel yang bulat atau oval, sama besar, kecil mirip sel darah merah dengan sedikit sitoplasma dan inti yang bulat, sama besar berkromatin halus. 

     Berhubung tak adanya data data yang menunjang maka kemungkinan tumor ini sebagai penyebab dapatlah disingkirkan.

RETIKULUM SEL SARKOMA

     Tumor ini tidak jarang ditemukan didinding dada. Frekwensi 6-12td_persen dari tumor ganas tulang iga primer. Terdapat pada usia pertengahan. Radiologis menyerupai sarkoma Ewing  walaupun reaksi periostalnya tak sehebat itu.

Mikroskopis  tumor terdiri dari sel atipik yang bulat seringkali berinti aneh dan harus dibedakan dengan Sarkoma Ewing atau lesi yang mirip tumor ini.

     Kemungkinan tumor ini sebagai penyebab tampaknya juga bisa disingkirkan.

 

Keradangan tulang kronis

OSTEOMIELITIS TUBERKULOSA

     Insidens infeksi tulang oleh tuberkulosa adalah paralel dengan insidens penyakit tuberkulosa paru, karena penyakit ini cukup banyak terdapat dinegara kita maka kehadirannya harus kita pertimbangkan pula. Dikatakan infeksi primer lebih jarang terjadi dibanding dengan infeksi sekunder dari paru atau melalui empiema.

Daerah epifise seringkali terkena proses yang disebarkan melalui darah. Radiologis tampak destruksi tulang dengan reaksi periostal dan pembentukan mass jaringan lunak, kadang kadang menimbulkan daerah destruksi multikistik atau lesi destruksi lokal didaerah kostokondral. Nekrosis pengejuan sering terjadi dan mudah menyebar kejaringan sekitarnya.  

 

Tumor ganas syaraf-jaringan ikat

NEUROFIBROSARKOMA

     Neurofibrosarkoma didapati pada dinding toraks hampir dua kali lebih sering dibanding bagian tubuh lain, walaupun demikian frekwensi tumor jenis ini termasuk jarang didapat. Penyakit ini sering dijumpai (walaupun tidak selalu) pada penderita dengan penyakit Recklinghausen dan biasanya berasal dari syaraf inter- kostal. Gejala yang menonjol adalah rasa nyeri, parestesi diikuti oleh adanya mass. Sukar dibedakan dengan fibrosarcoma kecuali dapat dilihat asalnya yang berasal dari syaraf dan tampak invasi epineural secara mikroskopis.

     Dari data data diatas kemungkinan tumor ini sebagai penyebab tampaknya dapat disingkirkan.

 

KESIMPULAN    

     Seorang laki laki dengan diagnosa tumor rongga dada kanan, mengeluh sakit kemeng pada pundak kanannya. Hasil pemeriksaan klinis dan radiologis menunjukkan adanya mass tumor yang ternyata berasal dari dinding dada d.h.i. tumor tulang iga.

Mengingat usia penderita yang tergolong usia pertengahan dimana biasanya tumor ganas tulang iga primer terdapat, adanya destruksi tulang iga 2 hampir total, adanya perasaan nyeri/kemeng yang biasanya disebabkan keganasan; frekwensi terbanyak dari tumor tulang iga ganas, tidak adanya tanda manifestasi sistemik, tak ada tanda tumor primer ditempat lain maupun tanda metastase ditempat lain, Mantoux test positip kuat, maka disimpulkan :

            Diagnosa klinis            : Tumor dinding dada + Bronkitis kronis

            Diagnosa etiologis       : Tumor ganas tulang iga primer yi.

                                                            KONDROSARKOMA

            Diagnosa banding       : Tumor ganas tulang iga primer yl.:

  • Soliter Plasmasitoma/Mieloma
  • Osteosarkoma

                                                  Osteomielitis tuberkulosa.

                          

UCAPAN TERIMA KASIH

     Ucapan terima kasih disampaikan kepada  Seksi/UPF Pulmo- nologi RSUD Dr.Soetomo, Departemen Pulmonologi Rumkital Dr.Rame- lan, Lab./UPF Radiologi, Lab./UPF Chirurgi, Lab./Inst Patologi Anatomi atas segala bantuan dan kerja sama yang telah diberikan sehingga dapat terselenggaranya pertemuan klinik patologi ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Baron DN. Protein plasma. In: A Short Textbook ofChemical Pathology. Alih Bahasa Kapita Selekta Patologi Klinik. Jakarta: EGC l981: 123.
  2. Barrett NR. Primary Tumours of Rib. Br J Surg 1955; 43: 113-32.
  3. Boyd W. The Bones,The Nervous System. Textbook of Pathology. Seventh edition. Philadelphia: Lea & Febiger 1961:1221-68,1122-221.
  4. Crofton J, Douglas A.Bronchoscopy, Pneumothorax and Mediasti- nal Emphysema, Disease of the Chest Wall. In: Respiratory Diseases 3th edition. PG Asian Economy Edition. Singapore: PG Publishing Pte Ltd 1984: 115, 544, 740-4.
  5. Dunphy IE, Way LW, Thomas AN. Chest Wall Tumors. In:Current Surgical Diagnosis & Treatment 2nd ed. LMP, 1975:301-302.
  6. Govan ADT, Macfarlane PS, Callander R. Neoplasia, Carcinoma of Large Intestine, Plasma cell Tumours. Pathology Illustrated. New York: Churchill  Livingstone 1981:159-206, 425, 602-3.
  7. Meschan I. Fundamental Concepts, The Pleura, The Thoracic Cage. In:Synopsis of Roentgen Signs. 2nd ed. Philadelphia, London: W.B.Saunders Company 1962: 8,253,258.
  8. Netter FH.Bronchofiberscopy. In: Respiratory System. Ciba, 1979:281.
  9. Pare JAP.,Fraser RG.Special Diagnostic Procedures, Neoplasms of The Chest Wall. In:Synopsis of Disease of The Chest. Japan: Saunders International 1985: 134, 729-31.
  10. Pascuzzi CA,Dahlin DC, Clagett OT. Primary Tumor of the Ribs and Sternum. J Thorac Surg.1957; 104: 390-400.
  11. Price SA, Wilson LMC. Tumor Sistem Muskuloskeletal.In: Pathophysiology Clinical Concepts of Disease Processes. Alih Bahasa, Adji Dharma: Patofisiologi. Jakarta: EGC. 1985: 394- 402.  
  12. Simon G. Neoplasma  Tulang. In: X ray Diagnosis.2nd ed. Alih Bahasa. Diagnostik Rontgen. Cetakan 2. Erlangga, Jakarta. 1981: 164-72.
  13. Siswanto D. Alfafetoprotein. Lokakarya Imunologi: Diagnostik dan Aplikasi Klinik. Surabaya.1985.
  14. Teitelbaum SL. Twenty years' experience with intrinsic tumors of the bony thorax at a large institution. J Thoracic Cardiovasc Surg 1972; 63: 776-782.
  15. Teitelbaum SL. Twenty years' expirence with soft tissue sarcomas of the chest wall at a large institution. J Thoracic Cardiovasc Surg l972; 63: 585-6.
  16. Teitelbaum SL. Tumor of the Chest Wall. Surg Gynecol Obstet. 1969;
    129: 1059-73.

Surabaya 19 Februari 1988.

 

RESUME DIFFERENTIAL DIAGNOSIS:

 

 

K

SP

O

E

R

OM

NF

Frekwensi

+

+

+/-

-

+/-

+

-

Middle age

+

+

-

-

+

+/-

-

Nyeri +

+

+

+/-

+

+

+

+

Ro

+/-

+/-

-

-

-

-

+/-

Metast. lambat

+

+

-

-

-

-

-

Lobullated

+

+

+

-

-

-

-

Sistemik manifest.-

+

-

+

-

-

+

-

 

3

1

 

 

URUTAN PENYAJIAN ACARA PKP:

 

  1. Pembukaan oleh Moderator.
  2. Penyampaian kasus + pembacaan foto.
  3. Tambahan dari Radiologi.
  4. Slide tentang kasusnya.
  5. Pertanyaan tentang kasus.
  6. Penyampaian pembahasan.
  7. Pertanyaan oleh wajib tanya/lainnya.
  8. Laporan durante operationum oleh Bedah.
  9. Laporan Patologi Anatomi.

Kata kunci : spesialis paru malang, dokter spesialis paru malang, dokter paru malang, sp paru malang, ahli paru malang, spesialis paru di malang, dokter spesialis paru di malang, dokter paru di malang, sp paru di malang, ahli paru di malang, spp malang, spp di malang, dokter paru terbaik malang, dokter paru terbaik di malang, dokter paru senior malang, dokter paru senior di malang, dokter paru bagus malang, dokter paru bagus di malang, dokter paru terbagus malang, dokter paru terbagus di malang, dokter paru terbaik malang, dokter paru terbaik di malang, dokter ahli paru di malang, pulmonologi malang, dokter paru, spesialis paru, ahli paru, dokter spesialis paru, respirologi malang, respirology malang, pulmonology malang

Tulis komentar

 
 

PRAKTEK Alamat lama:
Apotik Kimia Farma 53
Kawi 22A, Malang
Alamat baru: (TMT 1/1-13)
RS Panti Waluya Sawahan / RKZ,
Lantai II-N

Nusakambangan 56, Malang 65117
08113777488 / 362017 ext. 88.23
Pukul 18.00 - selesai, kec. Sabtu / Libur
RUMAHWilis Indah A-6, Malang 0341-568711

Peta Lokasi